Namun, sekarangkah saatnya kehidupan akan memisahkan kita agar engkau bisa memperoleh keagungan seorang lelaki dan aku kewajiban seorang perempuan?
Untuk inikah maka lembah menelan nyanyian burung bul-bul ke dalam relung-relungnya, dan angin memporakporandakan daun-daun mahkota bunga mawar, dan kaki-kaki menginjak-injak piala anggur?
Sia-siakah segala malam yang kita lalui bersama dalam cahaya rembulan di bawah pohon melati, tempat dua jiwa kita menyatu?
Apakah kita terbang dengan gagah perkasa menuju bintang-bintang hingga lelap sayap-sayap kita, lalu sekarang kita turun ke dalam jurang?
Atau tidurkah cinta ketika ia mendatangi kita, lalu, ketika ia terbangun, menjadi marah dan memutuskan untuk menghukum kita?
Ataukah jiwa-jiwa kita mengubah angin malam yang sepoi menjadi angin ribut yang mengoyak-ngoyak kita menjadi berkeping-keping dan meniup kita bagai debu ke dasar lembah? Kita tak melanggar perintah apa pun; kita pun tak mencicipi buah terlarang; lalu apa yang memaksa kita meninggalkan sorga ini?
Kita tidak pernah berkomplot atau menggerakkan pemberontakan, lalu mengapa sekarang terjun ke neraka?
Tidak, tidak, saat-saat yang menyatukan kita lebih agung daripada abad-abad yang berlalu, dan cahaya yang menerang jiwa-jiwa kita lebih perkasa daripada kegelapan; dan jika sang prahara memisahkan kita di lautan yang buas ini, sang bayu akan menyatukan kita di pantai yang tenang, dan jika hidup ini membantai kita, maut akan menyatukan kita lagi.
Hati nurani seorang wanita tak berubah oleh waktu dan musim; bahkan jika mati abadi, hati itu takkan hilang murca. Hati seorang wanita laksana sebuah padang yang berubah jadi medan pertempuran; seudah pohon-pohon ditumbangkan dan rerumputan terbakar dan batu-batu karang memerah oleh darah dan bumi ditanami dengan tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak, ia akan tenang dan diam seolah tak ada sesuatu pun terjadi karena musim semi dan musim gugur datang pada waktunya dan memulai pekerjaannya...
Curahan Hati Sang Merpati
Minggu, 25 September 2011
Senin, 19 September 2011
kau,, cinta pertamaku....
rintihan raga ini tak lagi tertahan
saat dirinyadalam tangis kesedihan
jiwa ini diam, tertunduk dalam keheningan malam
saat sang angin semilir dalam rindu yang terpendam
akankah ada lagi??
naungan tawa canda yang pernah terbagi
akankah ternikmati??
hembusan angin yang dulu mengusir sepi..
akankah terobati??
sgala luka yang dulu tercipta di relung hati..
akankah sgalanya dimengerti??
tuk akhiri rumitnya kisah yang tak bertepi
hanya dia.. yang mampu menyempurnakan
hanya dia yang mampu kuatkan aku..
untuknya.. ku slalu bertahan..
karena dirinya, cinta pertama yang tak kan tergantikan..
saat dirinyadalam tangis kesedihan
jiwa ini diam, tertunduk dalam keheningan malam
saat sang angin semilir dalam rindu yang terpendam
akankah ada lagi??
naungan tawa canda yang pernah terbagi
akankah ternikmati??
hembusan angin yang dulu mengusir sepi..
akankah terobati??
sgala luka yang dulu tercipta di relung hati..
akankah sgalanya dimengerti??
tuk akhiri rumitnya kisah yang tak bertepi
hanya dia.. yang mampu menyempurnakan
hanya dia yang mampu kuatkan aku..
untuknya.. ku slalu bertahan..
karena dirinya, cinta pertama yang tak kan tergantikan..
Minggu, 11 September 2011
LELAH
Dalam gelapnya bumi..
Seputih awan yg memeluknya.
Terdiam ku lelah,
Menatapmu yang tanpa arah.
Lelah..
cukupkah ku menanti utk hal yg tiada pasti?
Atau kau kan tetap membisu, mengabaikanku?
Menoleh lalu membuang muka?
Atau kau membutakan matamu karenaku?
Lbh mengutamakan ego dan kemunafikanmu?
Aku disini,
Lelah menantimu..
Lihatlah kerinduan ini,
Terkapar membusung di puncak egomu..!!
Seputih awan yg memeluknya.
Terdiam ku lelah,
Menatapmu yang tanpa arah.
Lelah..
cukupkah ku menanti utk hal yg tiada pasti?
Atau kau kan tetap membisu, mengabaikanku?
Menoleh lalu membuang muka?
Atau kau membutakan matamu karenaku?
Lbh mengutamakan ego dan kemunafikanmu?
Aku disini,
Lelah menantimu..
Lihatlah kerinduan ini,
Terkapar membusung di puncak egomu..!!
Sayap patah Azzura...
Semoga sayap patahku cukup menghangatkan pangeran hati,
Yang melambungkan bahagiaku,
Meneduhkan disaat diri tlah merapuh..
Kini ku mengerti arti penantian
Memahami makna gelombang sebelum daratan..
Saat ksatria kejora memanah mendung di angkasa,
Derai tawaku menjadi bintang di langit terang,
Binar mataku menjadi cahaya di jiwa nya.
Kau, labuhan hatiku..
Saat jiwa ini mati,
Cintamu akan slalu ada menemani kehampaan sang azzurra.. :)
I love u.. :*
Yang melambungkan bahagiaku,
Meneduhkan disaat diri tlah merapuh..
Kini ku mengerti arti penantian
Memahami makna gelombang sebelum daratan..
Saat ksatria kejora memanah mendung di angkasa,
Derai tawaku menjadi bintang di langit terang,
Binar mataku menjadi cahaya di jiwa nya.
Kau, labuhan hatiku..
Saat jiwa ini mati,
Cintamu akan slalu ada menemani kehampaan sang azzurra.. :)
I love u.. :*
Langganan:
Postingan (Atom)